Paskah Itu Hari Kedelapan
(2 Korintus 5:16-21)
"Tak kenal maka tak sayang." Ungkapan sederhana ini menyimpan makna yang dalam. Rasa sayang, kepedulian, dan komitmen untuk memelihara sesuatu hanya tumbuh ketika kita mengenalnya dengan lebih dekat. Sama seperti saat kita mengenal seseorang—semakin kita memahami perjalanan hidupnya, perjuangannya, dan isi hatinya—semakin besar pula rasa hormat dan kasih kita kepadanya. Demikian pula dalam iman: semakin kita mengenal apa yang kita imani, semakin besar dan tulus kasih kita kepada Tuhan. Hari ini, kita diajak mengenal sebuah istilah yang mungkin jarang terdengar, yaitu Hari Kedelapan. Sekilas, ini hanya angka setelah hari ketujuh. Namun, dalam tradisi Gereja Ortodoks, Hari Kedelapan memiliki makna rohani yang sangat mendalam. Para Bapa Gereja abad-abad awal memaknainya dengan menelusuri akar sejarahnya dalam tradisi Israel. Dalam hukum Taurat, bayi laki-laki disunat pada hari kedelapan sebagai tanda inisiasi, pemurnian, dan perjanjian Allah dengan Abraham. Sunat menjadi momen penegasan bahwa seseorang termasuk dalam umat perjanjian Allah. Namun, dalam terang kebangkitan Kristus, makna ini meluas. Hari Kedelapan menjadi tanda kehidupan baru di dalam Kristus—pembaruan batin, transformasi hati, dan kesediaan untuk hidup dalam kasih Allah. Jika penciptaan dunia diselesaikan pada hari ketujuh/hari Sabat, maka kebangkitan Yesus pada hari pertama minggu itu—yang oleh para teolog disebut Hari Kedelapan—menandai awal dari ciptaan yang baru. Dalam kalender pada umumnya, hari Minggu merupakan hari pertama dalam satu pekan, tetapi dalam bingkai iman, hari minggu adalah Hari Kedelapan. Kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi pintu yang terbuka menuju pengharapan akan Kerajaan Allah, ketika segala sesuatu akan dipulihkan dan diperbarui.[1] Semangat Hari Kedelapan sejalan dengan pesan Rasul Paulus kepada jemaat Korintus: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17). Ayat ini menegaskan bahwa di dalam Kristus, Allah terus berkarya mencipta. Melalui kebangkitan Yesus, Allah tidak berhenti memperbarui hidup kita. Dengan kata lain, Gusti ora sare—Tuhan tidak pernah tertidur atau berhenti bekerja. Kebangkitan Kristus adalah bukti nyata bahwa Allah membentuk kita menjadi manusia baru: dari pribadi yang egois menjadi peduli; dari hati yang angkuh menjadi rendah hati; dari keras hati menjadi lembut hati. Pembaruan ini bukan hanya untuk kita nikmati, tetapi juga untuk kita bagikan. Allah memanggil kita terlibat dalam karya pembaruan-Nya, sehingga kehidupan baru di dalam Kristus dapat dirasakan oleh semua orang. Hari Kedelapan adalah tanda partisipasi kita sebagai gereja untuk menghadirkan kehidupan baru di tengah dunia yang penuh kematian, ketidakadilan, dan keputusasaan. Ini mengajak kita tidak sekadar merayakan kebangkitan Kristus setahun sekali, tetapi menghidupinya setiap hari—melalui tindakan kasih, kata-kata yang membangun, dan pilihan hidup yang memancarkan cinta kasih. Sederhananya, Hari Kedelapan adalah semangat hidup di dalam Kristus. Allah di dalam diri Yesus Kristus mempersembahkan diri-Nya untuk memperbarui seluruh ciptaan. Maka kita pun dipanggil untuk menjadi persembahan yang hidup—membawa terang di tengah gelap, harapan di tengah putus asa, dan kasih di tengah kebencian. Itulah tanda menjadi ciptaan yang baru. Karena itu, saat kita mendengar Firman Tuhan hari ini, mari kita menerimanya bukan sekadar sebagai pemahaman, tetapi sebagai undangan untuk terlibat dalam karya pembaruan Allah. Selamat Paskah. Selamat merayakan Hari Kedelapan. Amin.
SUMBER MATERI: Masa Paskah 2026: “Kebangkitan Kristus Memperbarui Ciptaan - Paskah Ekologis” Hak Cipta © 2025, LPP Sinode GKJ dan GKI SW Jateng