Mazmur 23 di Tengah Bumi yang Gersang
(Mazmur 23)
Ketika kita membaca Mazmur 23, sering kali kita terhanyut pada gambaran yang indah: padang rumput hijau, air yang tenang, jalan yang benar. Semua itu terasa seperti lukisan damai. Tetapi mari kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita masih melihat padang rumput hijau itu hari ini? Apakah sungai-sungai kita masih tenang dan jernih? Bagaimanapun kita harus mengakui bahwa realitas di sekitar kita sangatlah berbeda. Sungai berubah menjadi saluran limbah, hutan menjadi tanah gersang, udara menjadi sesak oleh polusi. Bagaimana kita dapat berkata, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku”, sementara ciptaan yang dititipkan kepada kita sedang rusak dan menderita? Mazmur 23 mengingatkan bahwa pemeliharaan Allah selalu hadir lewat ciptaan. Rumput hijau bukan hanya simbol rohani, tetapi makanan bagi ternak, sumber kehidupan petani, dan paru-paru bagi bumi. Air yang tenang bukan hanya metafora ketenangan batin, tetapi sungai yang sehat, air bersih yang kita minum setiap hari. Jika kita membiarkan alam rusak, kita sesungguhnya sedang menutup saluran kasih Allah bagi generasi mendatang. Mazmur ini juga berkata: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya.” Bukankah lembah kekelaman di zaman ini adalah krisis ekologi? Perubahan iklim, banjir bandang, tanah longsor, polusi plastik, bahkan krisis pangan? Namun kabar baiknya: Tuhan menuntun kita di jalan yang benar. Jalan benar itu hari ini berarti gaya hidup yang lebih sederhana, hemat energi, mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga air. Itu bukan sekadar tindakan sosial, melainkan ketaatan iman. Dan akhirnya, Daud berkata: “Aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.” Rumah Tuhan bukan hanya gereja. Bumi ini adalah rumah bersama segala ciptaan. Menjaga rumah atau bumi ini berarti menghormati Sang Pemilik rumah. Jika kita mengaku Tuhan sebagai Gembala, marilah kita belajar menjadi gembala kecil bagi bumi, merawat rumput tetap hijau, air tetap jernih, dan rumah tetap layak huni. Dengan begitu, bukan hanya kita, namun seluruh ciptaan dapat berkata pula: “Aku takkan kekurangan, sebab Tuhan adalah Gembalaku.”
Sumber Materi : Masa Paskah 2026: “Kebangkitan Kristus Memperbarui Ciptaan - Paskah Ekologis” Hak Cipta © 2025, LPP Sinode GKJ dan GKI SW Jateng